Kamis, 06 November 2008

Muhammad Robi Qawi

Sekretaris Jenderal JIMMKI Pusat periode 2007-2009

______________________________________________

“Merdeka 63 tahun Indonesia!. Mari kita nikmati sebuah nasi tumpeng. Nasi dari beras Vietnam, tempe dari kedelai Amerika, abon dari daging Australia, buah pisang dari Brazil, bawang putih dari Cina, garam dari India, bendera dari kertas Skotlandia, dan bayar tumpeng Via Bank Singapura. Tapi kita tetap bangga karena tampah dan beseknya terbuat dari bambu asal Indonesia. Merdeka!”

Banyak mimik yang kemudian muncul diparas setiap orang pasca mendapat pesan singkat (sms) ini. Sms yang beredar pada saat moment komerdekaan Indonesia tiba beberapa waktu lalu. Tanpa pernah mengerti siapa yang pertama kali meng-create sms ini, terus saja sms ini di forward. Mungkin lantaran mampu menggelitik jenak-jenak nurani kita sebagai bangsa agraris. Pastipun anda berpikir sms tersebut adalah sesuatu yang menarik, lalu anda menuliskannya dalam handphone dan kemudian menge-Save-nya dengan cita-cita akan forwardnya, pada saat momentum kemerdekaan Negara ini tiba tahun depan. Pesan singkat ini akan terus berputar berkeliling nusantara. Kapan ia (sms) berhenti?

Hal itu terjadi saat semua ladang bambu kita, juga telah terkonversi menjadi gedung-gedung tinggi!!

Tak perlu kemudian kita menanggapi “sms hiperbola” tersebut secara hiperbola pula (berlebihan). Sms ini patut benar menjadi sebuah refleksi (pencerminan) bagi kita, seburuk itukah wajah kita saat ini?. Pengingat bagi kita untuk tidak terjebak pada sejarah dengan “kegantengan wajah” kita dahulu, bahwa Indonesia adalah Negara agraris yang telah mencapai swasembada pangan.

Jimms on reflection

Tulisan ini tidak di create menjadi sebuah tulisan ilmiah layaknya tulisan-tulisan sebelum yang sudah dimunculkan di blog ini. Bahkan judul tulisan ini copy paste dari tulisan sebelumnya, semua idenya berlangsung spontanitas. Pasca membaca tulisan “refleksi jimmki tahun pertama” dan setelah membaca pesan singkat dari dolles (ketua umum JIMMKI periode 2007-2008) akan jimmki yang telah memasuki tahun keduanya. Happy birthday JIMMKI, Selamat milad.

Tak terasa waktu bergulir cepat, belum lama rasanya dimasjid kampus UGM itu. Kami dari berbagai universitas berkumpul untuk mendeklarasikan organisasi bernama JIMMKI. Antusiasme yang begitu hebat nampak dari wajah saudara-saudara kami dari berbagai daerah. Tak main-main pastinya, mereka datang menyebrangi pulau, dengan dana besar, pasti ada sebuah asa besar yang diharapkan. Pulau Kalimantanpun disebrangi, 3 hari 3 malam dengan menggunakan kapal laut oleh teman-teman kami dari UNTAN. Begitupun saudara-saudara kami dari UNMUL dan USU yang dengan kocek pribadi mereka datang ke Yogyakarta untuk turut mendeklarasikan JIMMKI. USU, UNILA, UGM, IPB, INSTIPER, UNWIN, UNTAN, UNMUL menjadi catatan para muasis dakwah kita di JIMMKI mengajarkan pada kita untuk bertadhiyah dan bersunguh-sungguh dalam dakwah.

Dua tahun JIMMKI sudah berumur. Sudah sebesar apakah tinggi kami saat ini? Seperti apakah wajah kami kini? Jangan-jangan wajah kami telah berjerawat dan penuh bercak sehingga tak nyaman dipandang? Atau disekeliling tubuh kami dipenuhi oleh berbagai macam benalu? Hingga perawakan kami menjadi begitukurus.

Rakyat butuh makan.

”Apa yang telah dilakukan JIMMKI selama ini?” seloroh penanya tatkala on Air di radio. Jawabku ”JIMMKI masih muda, baru berumur satu tahun... blablablabla. kemudian menyebutkan beberapa hal yang telah dilakukan. JIMMKI telah menjadi media ukhuwah antara rimbawan muslim ‘Se-Indonesia’, JIMMKI telah membangun jaringan dengan banyak kalangan, JIMMKI telah mengadakan seminar-seminar. Deeleldeelel. Tapi apakah jawaban prestasi tersebut mampu memuaskan penanya? Tidak! Rakyat butuh makan. Begitu tepatnya. Tak butuh seminar, tak butuh jaringan, tak butuh konsolidasi dan memperbanyak anggota. Hutan dan lingkungan ini, butuh kerja-kerja riil kita.

JIMMKI adalah bayi yang terlahir ditengah kompleksitas permasalahan negeri. Oleh karenanya meskipun bayi, JIMMKI harus sudah mengambil peran strategis untuk berkontribusi. Kita tak bisa menunggu mama selesai menyapih, kemudian kita belajar berjalan, masuk TK berlanjut SD, memasuki masa pubertas, remaja, kemudian dewasa. Sekali lagi, rakyat butuh makan sekarang, menunggu esok, berarti menunggu mereka mati.

Sebagai bayi,

Kaki kita masih lemah

jangankah berlari melangkah saja sulit

Namun, Bukan berarti

kita tak mampu mencapai tujuan kita

Karena ada juga yang siap memanggul kita

Begitupun mata kita,

tangan kita, pendengaran kita

Semuanya masih teramat lemah

Tapi bukan berarti

kita menyerah pada semua keterbatasan

Kita punya ketulusan,

kita punya keikhlasan,

keberanian, kesungguhan

Serta kita punya Ke-Iman-an

Wala tahinu wala tahzanu

Normative Conclusion

Jangan berkata “Ooo” selesai membaca tulisan ini, tapi ungkapkan “Aha”. Itu artinya anda siap bergerak.

Maksud saya dengan meangakhiri tulisan ini dengan sub-title Normative Conclusion (kesimpulan normative) sebab pada tulisan sama sekali saya tak mengemukakan gagasan pada wilayah mana kita musti bergerak. Terlebih memang kita sudah selesai melewati etape tersebut kala mukernas dahulu. Sebagai sebuah gerakan dakwah, wilayah jimmki teramatlah luas, yaitu “Mengkontekstualisasikan islam sebagai sebuah agama rahmatan lil a’lamin”. Jadi tidak ada alasan untuk kita tidak bergerak.

Tulisan ini diawali dengan masalah, ditengahi dengan tadhiyah dan dimaknai dengan pembentukan kesadaran akan siapa kita. Allah punya rencana menjadikan kita tarzan yang lahir pada abad ini, lahir ditengah kegersangan hijaunya hutan. Hal ini berarti Allah meminta kita menjadi embun penyejuk, menjadi sebuah oase bukan fatamorgana. Kita bukan tidak bisa bergerak, bukan juga tidak mempunyai ruang gerak, tidak juga bingung mau bergerak. Kita Cuma insan yang masih malu untuk bergerak. Rasionalitaslah yang membuat kita demikian –singkirkanlah rasionalitas Bung- mari kita berkhayal tanpa logika dan mewujudkannya dalam ruang-ruang nyata. Berfikir dan bergeraklah..!! Karena itu tanda kita manusia. Lets Move on.

0 komentar:

Posting Komentar