Muhammad Robbi Qawi
Sekretaris Jenderal JIMMKI Pusat periode 2007-2009
______________________________________________
Seberapa sukses jalannya sebuah pemerintahan, berdasarkan rumus umum di masyarakat, yang menjadi tolak ukur kesuksesan pemerintahan adalah tidak perlu antri minyak tanah, harga sembako relatif stabil dan terlihatnya hasil pembangunan berupa sarana dan prasarana.
Dengan parameter-parameter tersebut, wajar bila kemudian kematian Presiden Soeharto (masih) diikuti tangis jutaan rakyat
Pemikiran demikian lahir sebab masyarakat lebih merasakan kenyamanan pada era rezim Soeharto. Pada saat itu, konsumsi tercukupi bahkan
Soeharto Pahlawan Atau Guru Bangsa
Oleh karena kondisi ekonomi yang rapuh pada awal pemerintahan Soeharto, kebijakan pembangunan perekonomian menjadi prioritas utama. Semua aset negara di manfaatkan untuk memulihkan kondisi ekonomi. Salah satu aset strategis yang digunakan untuk menjadi modal pembangunan adalah hutan. Sebab hutan merupakan sumber daya alam yang bernilai ekonomi tinggi serta hutan tropika
Dengan dana yang didapat dari pengeksploitasian hutan tersebut, negara melakukan proses-proses pembangunan. Kita menebang pohon-pohon di hutan untuk membangun pohon-pohon beton. Alhasil penampakan
Untuk mendapatkan sebuah capaian kemajuan layaknya era kepemimpinan Soeharto, tidaklah di butuhkan orang-orang pintar. Tebang-jual, tebang-jual, demikian pola kita mendapatkan uang. Dengan mekanisme tersebut, sampai kapan alam dapat menyuapi manusia?. Hal tersebut sama halnya dengan kita membiarkan generasi yang akan datang hidup kelaparan, sebab tidak ada lagi yang dapat menyuapi mereka. Pengelolaan yang dilakukan oleh orang pintar adalah pembangunan yang ada berusaha memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Antitesa Pola Pembangunan
Antitesa sejarah demikian ungkap Anis Matta (Sekjend Partai Keadilan Sejahtera), menilai jalannya roda pemerintahan kita. Orde baru hadir dengan mengecam kebijakan orde lama dan orde reformasi muncul dengan menolak ide orde baru. Ditambahkan oleh Anis Matta bahwa kita hidup pada masa ini dengan dendam atas masa lalu. Akibatnya kita tidak pernah dapat melihat sejarah secara utuh. Untuk kemudian diambil sebagai pelajaran, atas perilaku tiap episode sejarah sehingga kita akan menjadi bangsa yang maju dan terus melangkah ke depan.
Bangunan “bangsa reformasi” telah dibangun dengan meruntuhkan seluruh bangunan “bangsa orde baru”. Sama artinya dengan kita memulai bangunan peradaban
Tulisan ini tidak membahas layak tidaknya Soeharto mendapat gelar pahlawan dengan menilai segala prestasi baiknya dan menghitung dosa-dosanya. Yang menjadi garis bawah adalah kita menjalani saat ini dengan berdasarkan penolakan terhadap hal-hal yang ada dan berlaku pada rezim terdahulu. Contoh riil antitesa sejarah tersebut adalah sentralisasi menjadi desentralisasi. Sistem sentralisasi yaitu di monopolinya kewenangan pengelolaan oleh pemerintah pusat. Oleh karenanya reformasi menuntut untuk pemerintah pusat tidak memonopoli kewenangan ( desentralisasi). Sejak Januari tahun 2000 berdasarkan UU. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, pemerintah daerah menjadi memiliki kewenangan (lebih) untuk mengatur urusan rumah tangganya.
Diharapkan peran serta daerah dalam pengelolan hutan dapat meningkatkan pengawasan hutan sehingga hutan lebih terjaga. Serta dapat melibatkan masyarakat sekitar dan memberi dampak langsung bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Sudah hampir 10 tahun perjalanan otonomi daerah, tapi ternyata tidak juga menunjukkan adanya arah kemajuan tercapainya tujuan pengelolaan hutan yaitu hutan lestari dan masyarakat sejahtera. Berdasarkan hasil penelitian CIFOR, desentralisasi hanya menghasilkan “raja-raja” baru pada tingkatan daerah. Bahkan berkembang anekdot yang cukup nge-trend tentang definisi desentralisasi adalah transfer of corruption from central to local government. Bila diterjemahkan secara bebas; berpindahnya korupsi yang semula berada di tingkat pusat menjadi korupsi di tingkat daerah.
Kenyataan inilah yang dikatakan sebagai peradaban semu menuju Pseudo Civilization (peradaban semu). Soeharto hanya memberikan kekeyangan sesaat begitupun sistem desentralisasi tidak mengajak kita menuju titik terang. Sentralisasi dipenuhi dengan praktik korupsi dan begitupun halnya dengan desentralisasi. Konsekuensi tak beranjak dari kesemuan menuju ke kesemuan adalah karena kita kerap menghancurkan bangunan peradaban yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya dan kemudian kita kembali membangun peradaban dari pondasi.
Desentralisasi bukanlah sebuah sistem cerdas yang diciptakan untuk menjadi solusi atas permasalahan kehutanan. Melainkan hal tersebut hanyalah merupakan penolakan (antitesa) dari sistem sebelumnya yaitu sentralisasi. Tak penting sentralisasi, desentralisasi, reformasi ataupun revolusi! Yang paling penting sekarang adalah sebuah rencana pengelolaan hutan yang tepat, terencana dan terpadu. Mari belajar dari masa lalu dengan melihat sejarah bangsa ini secara utuh.
0 komentar:
Posting Komentar