Rabu, 27 Februari 2008

Septa Dolestri

Ketua Umum JIMMKI Pusat periode 2006-2007

______________________________________________

Arungi meander, terapung di hutan hujan

Saat taiga menyapa ramah, kanopi memayungi

Semilir nada an gin, berseling epifit warna warni

Di saat aku menikmati, oh cantiknya suatu sudut bumi

Seperti kawasan Timur Tengah, hanya pasir dan bebatuan diselingi beberapa pohon palem dan kurma. Atau Afrika, hamparan gurun dengan sedikit perdu dan ilalang menguning. Atau tak perlu jauh-jauh, tengoklah Singapura, tetangga kita yang selalu berupaya menambah luas wilayahnya. Dan kalau itu terjadi dengan kita, Indonesia, tentu saban han Negara mi akan sibuk bernegosiasi untuk membiarkan puluhan tongkang mengangkut butiran halus untuk memperluas daratannya.

Membayangkan Indonesia tanpa hutan bukanlah hal yang sulit. Toh, di sebagian wilayah di dunia banyak yang tidak memiliki hutan. Mereka tetap bisa hidup dan tidak kekurangan oksigen untuk tetap membiarkan paru-parunya berfungsi. Sekali lagi tidak sulit. Hanya saja, persolannya bukan pada mudah atau susahnya membayangkan Indonesia tanpa hutan. Melainkan menyadari bahwa Indonesia adalah Negara yang salah satu unsur utamanya adalah hutan itu sendiri.

Hutan adalah warisan leluhur Indonesia yang sudah ada sejak lama. Ibarat budaya, hutan hadir sebagai bagian kehidupan yang turut membentuk budaya Indonesia itu sendiri. Orang pedalaman Borneo mungkin tidak akan memiliki budaya ritual yang menjaga kayu-kayu besar kalau mereka tidak hidup di hutan. Suku Dani tidak akan bertani secara nomaden kalau alam mereka adalah gurun pasir yang sama sekali tidak bisa ditumbuhi tanaman kecuali kaktus dan sejenisya. Membayangkañ Indonesia tanpa hutan adalah membayangkan nasib 60 juta rakyat Indonesia yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. Demikianlah, hutan telah menjadi bagian dan Indonesia itu sendiri.

Maka, bayangan sementara saya adalah, tak ada hutan, tak ada Indonesia. Dengan kata lain, jika negara zamrud khatulistiwa mi hanya terdiri dan gurun tandus, lautan, dan pegunungan batu, maka bias jadi namanya bukan Indonesia, melainkan Indie, Indisia, Indona, atau nama lain yang itu bukan lagi l-N-D-Q-N-E-S-l-A.

Data terkini FAQ (Food and Agricultural Organization) 2006, menyebutkan luas kawasan hutan Indonesia menuju angka 88 juta ha, atau mengalami penyusutan sebesar 1,87 juta ha per tahun. Tentu bukan angka yang kecil. Apalagi jika kita perhatikan kerugian yang timbul akibat bencana yang sebagian besar berawal dan rusaknya ekosistem hutan. Banjir, longsor, dan ketidakseimbangan alam yang memaksa manusia untuk menanggung akibatyang tidak sedikit.

Membayangkan Indonesia tanpa hutan adalah membiarkan terjadinya degradasi, pengalihan fungsi hutan, atau konversi 96 juta ha hutan yang tersisa (MenHut, Februari 2007). Dengan laju kerusakan hutan 2,6 juta ha sampai 2,8 juta hektar, hutan Indonesia hanya akan bertahan 15 tahun lagi. Mencermati tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia, membuat kita semakin mudah untuk membayangkan Indonesisa tanpa hutan. Membayangkan Indonesia tanpa hutan membayangkan Indonesia 15 tahun lagi.

Membayangkan Indonesia tanpa hutan?! Saya juga tidak habis pikir, mengapa tertintas pikiran untuk membayangkan Indonesia tanpa kehadiran pohon-pohon hijau diselingi meander dan suara primate bersahutan itu. Sempat terlintas untuk menepisnya. Ah, hanya membuang waktu saja. Namun, setelah saya anaIisis lebih jauh, ternyata saya harus menemukan gambarannya. Setidaknya gambaran sederhana dari pikiran tentang Indonesia tanpa hutan.

Mungkin bagi sebagian orang adalah hal biasa. Namun, jika diamati Iebih jauh ada makna yang membutuhkan tafsiran mendalam atas kepemilikan hutan oleh suatu negara. Wajar bila seorang Chiko Mendez, memperjuangkan eksistensi hutan di pedalaman Brazil. Karena baginya hutan adalah harga diri. Pun halnya Jepang yang memiliki strategi: melindungi hutan-hutannya selama mungkin, walaupun itu berarti melakukan eksploitasi habis-habisan kawasan Asia Ten ggara dan Pasifik. Larmaan, 1988, menyebutkan sampai tahun 1980-an, 50% impor kayu dunia adalah impor Jepang. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kawasan hutan Jepang agar tetap tebal.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Berbagai upaya telah dilakukan. Mulai dari penataan peraturan, pengembangan sumber daya manusia, melaksanakan seminar, Iokakarya, penerbitan buku dan sosialisasi. Namun, alih-alih memperbaiki hutan, justru laju penyusutan hutan kian hari mencemaskan. Rimbawan semakin terjebak dengan pragmatisme ideologi. Idealisme luntur seiring berpindahnya jambul toga ke kanan. Seminar dan Iokakarya tinggal tumpukan foto kopi makalah. Peraturan tak lebih sekadar formalitas agar pengelolaan hutan masih mendapat kucuran segar.

Jika ditelaah kembali upaya yang telah dilakukan bangsa ini dalam menjaga dan menyelamatkan hutan, belumlah sebanding dengan laju kerusakan hutan yang kian pesat. Perlu usaha yang lebih keras lagi. Usaha yang tak sekedar slogan, apa lagi basa-basi seminar sehari. Semangat pelestarian hutan haruslah dijadikan iklim kerja dari semua stakeholder kehutanan. Dibutuhkan peran riil dan gerakan bersama, sehingga takkan ada lagi kesempatan untuk sekadar membayangkan Indonesia tanpa hutan (saja).

0 komentar:

Posting Komentar