0
komentar
Minggu, 22 Juni 2008
Andhi Kurniawan
Anggota Departemen Pembinaan JIMMKI Pusat periode 2007-2009
______________________________________________
Sudah menjadi semacam diktum bahwasanya pemuda selalu mejadi bagian dari proses perubahan perjalanan sejarah suatu bangsa. Sebut saja Revolusi Rusia (1905 dan 1917), Revolusi Spanyol (1936), Revolusi Cina (1925-1927), Revolusi Aljazair (1954) hingga Revolusi Islam Iran (1979) bahkan sampai dengan di Indonesia 1966 dan 1998. Kesemua peristiwa tersebut tidak ada catatan sejarah yang luput menuliskan nama "pemuda".
Totalitas yang diberikan pemuda tidak hanya berupa pemikiran, rekayasa sosial atau proses penyadaran publik tetapi juga pada tingkatan ribuan darah tertumpah demi membela apa yang diyakini pemuda sebagai kebenaran dan keadilan. Kita menemui kasus seperti ini pada jaman sahabat Rasul, adalah Khalid bin Walid seorang pemuda dan juga panglima perang yang handal pada masa kekhalifahan Abu Bakar AshSidiq, namun ketika Khalifah digantikan Umar bin Khatab ra Khalid digantikan oleh anak buahnya, kemudian Khalid mengatakan "aku berjihad bukan untuk Umar tapi untuk Tuhannya Umar". Sebuah idealisme yang tertancap mendalam pada seorang pemuda tentang nilai tauhid.
Romantika-romantika heroiknya peran pemuda dalam mengawal sebuah nilai kebenaran masihkah kini terasa, pemuda masa kini sebagian besar hanya menjadi trouble maker pada kondisi masyarakat yang ada sebut saja kasus narkoba, miras, seks bebas dll. Kondisi seperti ini merupakan sesuatu yang anomali dari peran pemuda yang sebenarnya. Realita seperti inilah yang sama-sama harus kita kembalikan kepada khitohnya, peran pemuda sebagai agen perubahan, stok kepemimpinan masa depan dan pengawal nilai kebenaran harus kita tunjukkan terutama posisi kita saat ini sebagai rimbawan muda.
Dunia kehutanan yang semakin terpuruk, praktek KKN di Manggala wanabhakti, monopoli HPH bukan terus untu disesali akan tetapi harus diberikan penyelesaian yang solutif, mungkin terlalu sering kita mengikuti seminar, diskusi yang jargonnya ditujukan untuk perbaikan kehutanan, akan tetapi diakhir diskusi hanya meninggalkan ruangan dengan "kotak snack" yang dibiarkan begitu saja tanpa ada sebuah konklusi yang jelas dalam seminar tersebut.
Rasanya kita patut merenungkan apa yang disampaikan Muhammad Hatta "Selama pemuda masih hidup dengan cita-cita untuk membangun Indoneisa di masa datang, yang ia tenggelam dalam romantisme politik untuk menggambarkan wajah Indonesia di masa mendatang, selama itu pula ia dapat menentukan rolnya atau bagiannya dalam perjuangan membangun Indonesia". Tanah air ini masih memiliki kita para rimbawan muda yang komitmen terhadap revitalisasi dunia kehutanan dan semangat kesabaran revolusioner untu menjadi pengawal proses perbaikan bangsa ini, pertanyaannya adalah seberapa lama komitmen kita saat ini dapat kita pertahankan? Jawabannya adalah seberapa besar motivasi kita untuk berada dalam barisan rimbawan ini dan di kampus inilah ke depan jati diri kita akan terbentuk karena disini menjadi kawah candradimuka yang menggodog pemimpin-pemimpin masa depan bangsa.